5 Tips Mendaki Gunung Ala Pecinta Alam Sejati

Kegiatan mendaki gunung memang hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu saja. Meskipun akhir-akhir ini muncul gejala naiknya jumlah pendaki yang diduga akibat adanya film-film remaja dengan tema pendakian gunung. Namun pendaki musiman ini biasanya hanyalah bersifat sementara saja kesukaannya terhadap pendakian gunung. Berbeda dengan pendaki gunung yang benar-benar pendaki gunung yang mereka akan terus mendaki gunung sampai mereka tidak bisa mendaki gunung lagi. Karena pendaki gunung yang asli hatinya akan selalu terikat dengan gunung. Berikut ini adalah beberapa tips mendaki gunung ala pecinta alam sejati versi idehidup.com, selamat menyimak.

1. Tidak Memetik Bunga Edelweiss Serta Tumbuhan Lainnya

Pendaki gunung yang asli akan menjaga kelestarian gunung beserta segenap penghuninya. Karena bagi pendaki gunung yang asli gunung merupakan kekasih yang dicintainya. Mereka tidak akan rela bila kekasih yang dicintainya itu rusak, merana dan menangis. Fenomena menarik yang masih sering terjadi adalah adanya pendaki gunung yang masih mengambil bunga Edelweiss Jawa (Anaphalis javanica) dan kerabatnya yang lain (Anaphalis longifolia dan Anaphalis viscida) dari gunung lalu dibawa pulang ke rumah.

manfaat mendaki gunung, pengertian mendaki gunung, mendaki gunung semeru, mendaki gunung rinjani, naik gunung, mendaki gunung mp3, mendaki gunung bromo, tips mendaki gunung

Bila yang terjadi adalah pengambilan bunga-bunga gunung tersebut, maka jelas-jelas mereka bukan pendaki gunung asli, mereka hanyalah pencuri yang berkedok sebagai pendaki gunung. Perilaku pengambilan bunga ini hanyalah menjadikan keberlangsungan siklus reproduksi (pembentukan bunga, penyerbukan bunga, pembentukan biji, penyebaran biji, perkecambahan biji) tumbuhan tersebut menjadi terganggu. Apabila hal tersebut dibiarkan terus-menerus maka regenerasi bunga gunung tersebut akan terhenti dan akhirnya akan mengarah ke kepunahan. Tidak akan dijumpai lagi Edelweiss Jawa dan kerabatnya yang lain di gunung.

2. Tidak Membuat Coretan-coretan di Gunung

Yang sering terjadi lagi salah satunya adalah aksi corat-coret batu atau tebing batu yang ada di gunung. Aksi tidak terpuji yang hanya sekedar ingin menunjukkan eksistensi ini merusak keindahan asli di alam. Aksi coret-coret batu ini juga mengancam dan mengganggu keberlangsungan hidup populasi-populasi lumut langka yang menempel di batu-batu tersebut. Pendaki sejati tidak akan mengganggu kehidupan lain meskipun itu hanya tumbuhan lumut. Lumut-lumut tersebut merupakan komponen makhluk hidup yang berperan dalam proses-proses sistem ekologis di hutan pegunungan.

Pemandangan-pemandangan alam yang indah menjadi tercemari oleh coretan-coretan tamu-tamu alam yang tidak sopan. Sudah selayaknyalah untuk tidak mencorat-coret batu-batu atau apapun itu yang ada di gunung. Alam akan lebih indah tanpa coretan-coretan perusak itu. Cukup ironis memang bila keindahan asli alam terkotori oleh coretan-coreta tidak berguna itu. Jadilah tamu-tamu yang mempunyai etika dan menghormati sistem kehidupan yang ada di gunung. Dengan melakukan aktivitas pendakian gunung yang benar maka anda akan belajar menjadi manusia yang mempunyai etika.

3. Membawa Turun Kembali Sampah

Yang parah adalah ketika pendaki tidak membawa turun kembali sampah yang mereka hasilkan. Bungkus-bungkus makanan yang mereka bawa hanya ditinggalkan begitu saja tergeletak di sekitaran tempat mendirikan tenda. Atau juga mereka membuang sampah sisa bungkus permen, sisa bungkus makanan ringan, dan sisa bungkus coklat langsung ke pinggir jalan setapak pendakian, sungguh perbuatan tersebut sangat tercela.

Sampah sisa makanan yang tidak habis dimakan juga harus dibawa turun dan jangan dibuang di sekitar tempat mendirikan tenda. Sisa makanan tersebut akan mengundang satwa hutan untuk memakannya. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa makanan manusia tidak cocok untuk dimakan hewan liar. Efek negatif yang terjadi adalah satwa liar akan terganggu kesehatannya setelah memakan sisa makanan manusia yang dibuang sembarangan dan tidak dibawa turun. Gangguan kesehatan pada satwa liar akan membahayakan kelestarian mereka dan bila dibiarkan akan mengarah pada kepunahan satwa liar.

Membuang sampah sembarangan di gunung akan merusak keindahan pemandangan di gunung. Keindahan alam gunung yang mempesona dirusak oleh penampakan sampah. Pendaki gunung sejati tidak akan merusak kekasih yang dicintainya dengan tidak membuang sampah di gunung dan membawa sampah yang mereka hasilkan turun kembali.

4. Tidak Membuang Puntung Rokok Sembarangan Penyebab Kebakaran

Pendaki sejati tidak akan membuang puntung rokok di gunung. Puntung rokok merupakan juga tergolong sampah. Bahkan bila puntung rokok masih menyala maka akan sangat berbahaya karena akan menyebabkan kebakaran hutan. Kebakaran hutan ini akan merusak alam pegunungan. Kebakaran hutan akan melenyapkan tumbuhan-tumbuhan, yang paling disayangkan adalah ketika kebakaran membakar populasi tumbuhan langka. Apabila kebakaran terus berlangsung dan merembet ke sekala yang lebih luas maka tumbuhan-tumbuhan langka bisa mengalami kepunahan dan hanya tinggal sekedar nama.

5. Tidak Memutar Musik Keras-Keras di Gunung

Beberapa kali penulis menjumpai pendaki gunung berjalan sambil memutar musik keras-keras. Mungkin maksudnya ingin mengusir kelelahan dan kebosanan dengan mendengarkan musik tersebut. Namun permasalahannya adalah bahwa dengan memutar musik keras-keras di gunung dan hutan akan menyebabkan polusi suara dan bisa mengganggu ketenangan satwa di hutan. Satwa di hutan tidak mengenal janis suara-suara musik yang diputar keras-keras tersebut. Suara-suara musik yang diputar keras-keras tersebut akan berpotensi membuat satwa-satwa hutan dan gunung menjadi stres dan mengacaukan perilaku alami mereka.

Demikianlah beberap tips mendaki gunung ala pecinta alam sejati. Sebetulnya, siapapun kita maka kita harus mencintai alam. Cinta alam diwujudkan dengan menjaga alam linkungan hidup dan tidak merusaknya. Kita harus menjaga alam lingkungan hidup tetap lestari dan mampu mendukung kehidupan secara berkesinambungan. Bila alam tidak mampu mendukung keberlangsungan hidup manusia karena sudah rusak, maka manusiapun juga terancam punah.

Langkah-langkah yang telah dibahas di atas juga sangat dianjurkan tidak hanya dilakukan sewaktu pendakian gunung saja, namun juga perlu dilakukan juga di kehidupan sehari-hari. Kegiatan mendaki gunung sebagai bentuk pelatihan bagi kita semua untuk lebih arif dan bijaksana terhadap lingkungan. Semoga tulisan ini mampu memberikan sedikit ketukan pada hati kita semua supaya lebih arif dan bijaksana dalam berinteraksi dengan lingkungan.