Menyiapkan Dana Tabungan Pendidikan Tanpa Asuransi Pendidikan Anak Ala Kondektur Bus

Masih perlukah investasi emas, investasi pendidikan reksa dana, dan asuransi pendidikan untuk anak? Saat kemarin saya naik bus sempat ngobrol-ngobrol dengan kondektur Bus. Beliau menceritakan bahwa anaknya baru saja lulus dari kuliah. Yang menarik adalah bapak kondektur tersebut bercerita banyak hal mengenai mulai dari bagaimana cara mendidik hingga menyiapkan dana untuk persiapan kuliah anaknya. Di pikiran saya saat itu, hanya ada satu kata untuk bapak tersebut, yaitu sangat disiplin. Bapak tersebut tidak menyimpan uangnya di rekening Bank, tidak menyiapkan dana dengan menyimpannya berupa investasi emas, juga tidak menyiapkan dana untuk kuliah anak dengan dana investasi pendidikan anak dengan reksa dana, maupun ikut program asuransi pendidikan. Bagaimana cara bapak tersebut mendidik serta menyiapkan dana untuk sekolah dan kuliah anaknya, mari kita simak dalam tulisan menarik berikut ini.

Tabungan Pendidikan, Asuransi Pendidikan, investasi emas, investasi pendidikan reksa dana,Bapak kondektur tersebut menyimpan dana melalui cara konvensional dengan memasukkan uang pada kaleng biskuit berbentuk kubus yang pinggiran penutupnya telah dipatri/dilas sekelilingnya sehingga tidak bisa dibuka tanpa dengan merusak kaleng tersebut. Menurutnya cara ini (menyimpan uang dalam kaleng biskuit) lebih mantap, cocok, dan sesuai dengan dirinya. Demikianlah jawaban bapak tersebut ketika saya tanya mengapa tidak menyimpan dana dalam rekening bank atau berupa emas. Bapak tersebut bercerita mulai melakukan kegiatan menabung dengan cara seperti itu sudah dimulai sejak dari tahun 1986. Hasilnya adalah seperti sampai saat ini, anaknya telah lulus kuliah S1, serta dari hasil menabungnya tersebut masih bisa untuk membeli sepeda motor dan juga masih cukup untuk menguliahkan lagi anaknya ke jenjang S2. Demikianlah cara bapak kondektur tersebut dalam menyiapkan dana tabungan pendidikan tanpa investasi emas, investasi pendidikan reksa dana, dan asuransi pendidikan.

Saya kagum akan kedisiplinannya bapak tersebut untuk mengisi secara rutin kaleng biskuit tersebut dengan selembar demi selember uang. Betapa kuatnya bapak tersebut tidak tergoda dan tergiur saat terdesak secara finansial untuk memecah kaleng biskuit dan menggunakan uang tabungan kuliah anaknya itu. Kedisiplinan merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam menyiapkan dana tabungan pendidikan tanpa investasi emas, investasi pendidikan reksa dana, dan asuransi pendidikan. Uang tersebut benar-benar mulai digunakan sebagai dana pendidikan ketika anaknya masuk kuliah. Saat ngobrol-ngobrol di atas bus yang sedang melaju tersebut saya sedikit tidak percaya akan cerita bapak kondektur tersebut. Namun pastilah ketidakpercayaan saya tersebut akan terpatahkan dengan fakta bahwa sekarang anaknya sudah memegang ijazah Sarjana dan setelah anaknya lulus dia tidak terbebani tumpukan hutang-hutang. Apakah saya juga harus memverifikasi data-data kebenaran perkataan Bapak kondektur tersebut dengan mengamati keseharian lalu lintas uang yang keluar masuk dompetnya. Untuk sampai saat ini saya kira tidak perlu menganalisis sampai sejauh itu. Cukuplah kiranya saya mengambil saripati pelajaran mengenai persiapan dana pendidikan untuk anak dari cerita-cerita dan uraian-uraian saat ngobrol dengan Bapak kondektur tersebut.

Cara Mendidik Anak Pak Kondektur Untuk Menunjang Penyiapan Dana Tabungan Pendidikan Tanpa Investasi Emas, Investasi Pendidikan Reksa Dana, dan Asuransi Pendidikan

Hal lain yang menarik untuk diperhatikan untuk mendukung Penyiapan Dana Tabungan Pendidikan Tanpa Investasi Emas, Investasi Pendidikan Reksa Dana, dan Asuransi Pendidikan yaitu penyiapan mental dan kepribadian anaknya. Anak bapak kondektur bus tersebut sama sekali tidak boleh menyusul ayahnya ke terminal atau ikut bus ayahnya meskipun itu hanya untuk sekedar iseng jalan-jalan. Hal ini dikarenakan menurutnya supaya anaknya tidak tergiur oleh kehidupan jalanan yang bila tidak kuat menjalani maka akan justru membuatnya gagal menjalani kehidupan. Bapak kondektur tersebut memberikan contoh kasus anak-anak pengamen di bus. Pada umumnya, anak-anak pengamen tersebut menurutnya akan kesulitan untuk bekerja pada sektor selain mengamen setelah terbiasa mendapatkan uang secara mudah dengan cara menyanyikan satu dua buah lagu kemudian menadahkan tangan meminta uang ke penumpang bus.

Bapak kondektur Bus tersebut juga bercerita bahwa saat anaknya kuliah tidak dibekali dengan sepeda motor keluaran terbaru, namun diberi sepeda motor bebek jenis dua tak lama. Menurutnya ini juga salah satu dari bagian pendidikan bagi anaknya supaya lebih mampu menghayati dan mengambil pelajaran dari kehidupan. Yang jelas hal ini juga melatih anaknya supaya tidak bergaya hidup mewah dan berlebih-lebihan. Karena nantinya akan susah untuk sadar dan merenung bila anaknya tersebut disuruh membawa sepeda motor keluaran terbaru. Saat saya tanya apakah masih hidup surat-surat STNK sepeda motor bebek tua tersebut, bapak tersebut menjawab masih hidup dan lengkap semua. Memang di benak saya bila sepeda motor jalan di perkotaan memang sangat perlu untuk melengkapi surat-suratnya, karena tentunya akan banyak operasi-operasi tertib lalu-lintas oleh kesatuan kepolisian lalu-lintas. Kesimpulan saya sampai saat ini berarti tidak apa-apa sepeda bebek jenis dua tak tua diurus STNK dan pajak-pajaknya serta masih legal untuk melaju di jalan raya. Karena dulu saya sempat mendengar isu bahwa ada pelarangan sepeda motor jenis dua tak untuk melaju di jalan raya. Namun ternyata isu yang sempat saya dengar tersebut ternyata terbantahkan dengan cerita dari Bapak kondekur tersebut.

Selain itu saya juga diberi tips oleh bapak kondektur tersebut. Yaitu bila ingin berbicara dengan anak, waktu terbaik adalah jam 12 malam ke atas. Hal ini menurutnya karena saat-saat tersebut kondisi udara sudah berhawa dingin. Dengan demikian, maka anak tidak akan membantah perkataan orang tua dan tidak akan marah-marah serta melawan karena perbuatan atau sikap-sikapnya yang tidak benar itu ditegur dan diingatkan. Ya meskipun juga hal ini pikir saya adalah karena bisa jadi juga karena si anak tersebut sudah mengantuk sehingga tidak ada perlawanan darinya. Namun tidak ada salahnya tips ini dicoba bagi orang tua yang ingin mengurangi ketegangan akibat adanya perlawanan saat mengingatkan dan menasehati anaknya.

Sekali lagi salut saya ke Bapak kondektur tersebut adalah betapa disiplin dan terdeterminasinya bapak tersebut. Karena jarang sekali orang mampu bertahan dari tekanan godaan untuk membelanjakan uang yang telah dikumpulkannya. Kecendrungan orang pada umumnya adalah akan membelanjakan uang yang ada. Namun dari gestur tubuh dan raut muka bapak Kondektur tersebut memang saya sudah bisa menebak bila beliau memang orang yang tegas, tidak mudah goyah, dan kuat memegang prinsip. Sikap-sikap mental seperti inilah sebenarnya yang menurut saya merupakan kunci pembeda bapak kondektur tersebut dengan kebanyakan orang. Kesemuanya itu tadilah yang merupakan rahasia prinsip dasar keberhasilan bapak konduktur tersebut.

Masih perlukah investasi emas, investasi pendidikan reksa dana, dan asuransi pendidikan untuk anak?

Pada dasarnya, apapun metode yang digunakan baik itu dengan menabung di bank, menyimpan dana pendidikan anak berupa investasi emas, investasi pendidikan anak dengan reksa dana, maupun berupa asuransi pendidikan untuk anak, maka kunci rahasia dan prinsip dasarnya adalah ketegasan dan kekuatan dalam memegang prinsip dalam penggunaan dana tersebut hanya untuk pendidikan anak. Dan yang pasti jangan sampai tergoda membelanjakan uang tabungan pendidikan anak untuk memenuhi kebutuhan selain untuk pendidikan anak apapun itu yang terjadi. Meskipun dana pendidikan untuk anak tersebut masih akan digunakan/dibayarkan beberapa tahun kedepan (masih lama). Prinsip umum inilah yang bisa kita terapkan pada kasus kita masing-masing pada kondisi perekonomian keluarga yang berbeda-beda. Selamat menyiapkan dana untuk pendidikan anak, semoga rencana anda berhasil dan anak anda akan tercukupi biaya pendidikannya hingga tercapai cita-citanya.