Tips Memasak Di Kamar Kos: Memasak Menggunakan Kompor Lapang (Kompor Pendakian Gunung)

Pengalaman dan penerapan tips memasak di kamar kos mungkin sering dilakukan oleh anak-anak kuliahan. Tulisan idehidup.com kali ini akan mencoba mengulas teknik survival seorang pendaki gunung di tempat kos. Lebih spesifik lagi adalah memasak di kos-kosan, kotrakan, atau rumah dengan menggunakan peralatan masak pendakian gunung. Kalau yang penulis alami memang karena tidak ada pilihan lain, misal karena tanggal tua atau saat kondisi keuangan kritis.

Di tempat kos penulis dulu tidak ada kompor untuk memasak. Akhirnya penulis tidak kekurangan akal, penulis memasak mie instant, menggoreng telur, memasak air untuk membuat kopi dengan menggunakan kompor lapang Trangia yang berbahan spiritus (etanol atau metanol hasil fermentasi) dan juga sesekali menggunakan kompor gas kecil untuk pendakian gunung. Itulah salah satu tips memasak di kamar kos yang pernah dilakukan sendiri oleh penulis.

Baca juga: 5 Tips Memilih Kompor Gunung Atau Kompor Lapangan Untuk Mendaki Gunung

Terkadang juga meskipun tidak sedang ingin memasak tapi karena rindu dengan suasana gunung saat pendakian maka penulis memasak air memakai kompor lapang berbahan bakar spiritus (merk Trangia) untuk membuat kopi. Ada juga cerita teman yang kangen dengan suasana pendakian gunung maka dia mendirikan tenda dome di dalam rumahnya dan tidur di dalam tenda tersebut. Memang seperti itu adanya yang biasanya terjadi pada teman-teman pendaki gunung dan penggiat alam bebas lainnya.

tips memasak di kamar kos, tips memasak di rice cooker, tips memasak di gunung, tips memasak di dapur, memasak menggunakan rice cooker, resep masakan tanpa kompor, masak nasi goreng di rice cooker, alat masak mie listrik, panci listrik untuk menggoreng, ketel listrik, panci listrik serbaguna, panci listrik portable, harga trangia, trangia murah, kompor trangia, trangia eiger, trangia kaskus, trangia 25-4 ul, trangia consina, trangia 27-4ul,

Penulis sendiri biasanya juga menyalakan dan memakai kompor lapang di rumah atau di tempat kos untuk latihan memasak yang membutuhkan skill/keterampilah khusus. Salah satunya adalah memasak nasi. Secara umum jarang ada yang bisa memasak nasi tanpa dengan menggunakan ricecooker. Penulis dulu juga sempat latihan memasak nasi menggunakan kompor spiritus Trangia di rumah terlebih dahulu sampai dirasa sudah cukup menguasai sebelum akhirnya memasaknya di lapang. Kalau tidak menguasai keterampilan cara memasak nasi dengan menggunakan kompor berbahan spiritus, kemudian memaksakan diri untuk memasak nasi di gunung dengan menggunakan kompor spiritus maka ada kemungkinan yang terjadi adalah nasi gosong atau nasi belum masak (masih keras). Bahkan memasak dengan menggunakan kompor gas pun juga belum menjadi jaminan keberhasilan dalam memasak nasi dengan sukses. Diperlukan sedikit keterampilan lebih dalam memasak nasi tanpa menggunakan ricecooker.

Baca juga: 9 Tips Memasak Di Gunung Untuk Para Pecinta Alam Dan Pendaki Gunung

Penulis lebih sering menggunakan kompor lapang berbahan bakar spiritus dari pada yang berbahan bakar gas botol/tabung kecil (mini) saat memasak di kamar kos atau di tempat kos maupun saat mendaki gunung karena berdasarkan alasan pertimbangan ekonomis, kemudahan untuk mendapatkan, dan alasan lingkungan. Penulis mempertimbangkan bahwa spiritus lebih murah daripada gas dalam tabung-tabung kecil. Meskipun memang ada penyedia jasa pengisian ulang tabung-tabung kecil itu, namun selain jarang ada yang menyediakan jasa tersebut penulis meragukan keamanan tabung gas kecil isi ulang tersebut, penulis membayangkan bila tiba-tiba tabung gas kecil isi ulang tersebut meledak. Iya memang ini hanyalah pendapat subyektif penulis saja, dan bisa jadi ini hanya permasalahan selera saja.

Penulis memilih memasak makanan di tempat kos dengan menggunakan bahan bakar spiritus karena spiritus mudah didapatkan mulai dari kota sampai pelosok desa. Spiritus banyak dijual di toko-toko penyedia bahan bangunan. Oleh karena itu spiritus penulis katakan mudah untuk didapatkan. Alasan selanjutnya adalah spiritus lebih ramah lingkungan karena spiritus dihasilkan dari proses fermentasi sumber hayati. Spiritus berbeda dengan gas yang dihasilkan dari penambangan gas alam yang secara umum merupakan termasuk energi yang tidak dapat diperbaharui. Meskipun juga terdapat jenis gas yang dihasilkan dari proses pengolahan dari sumber makhluk hidup yang biasa disebut dengan biogas. Salah satu jenis biogas yang banyak dijumpai adalah dari pengolahan kotoran ternak. Namun sejauh ini belum banyak produk biogas seperti itu yang dijual secara umum.

Yang juga merupakan tips memasak di kamar kos adalah memilih jenis kompor yang akan digunakan. Memasak di tempat kos dengan menggunakan peralatan memasak untuk pendakian gunung berbahan gas juga memiliki kelebihan. Di antaranya yaitu lebih praktis karena tinggal pasang dan tinggal menyalakan api. Selain itu juga biasanya tidak meninggalkan bau tidak enak yang mengisi seluruh ruangan. Memasak dengan menggunakan kompor berbahan bakar spiritus biasanya akan meninggalkan bau tidak enak bekas bakaran spiritus di dalam ruangan. Kompor berbahan spiritus memang tidak menyebabkan bahaya ledakan, namun mempunyai bahaya bila sampai spiritus tumpah dan kemudian tersulut api maka juga akan menyebabkan kebakaran.

Oleh karena itu memang diperlukan perhatian terhadap faktor kemanan (safety) dalam penggunaan kedua buah jenis bahan bakar kompor tersebut. Lebih baiknya adalah memasaknya di luar ruangan semisal di teras kos yang langsung berada di udara bebas. Bila memang situasi menyebabkan memasak di dalam ruang tertutup (misal memasak di kamar kos) maka sangat perlu berhati-hati dan memperhatikan serta menghindari potensi-potensi terjadinya kebakaran.

Memasak di tempat kos dengan menggunakan peralatan memasak lapang ini juga berguna bagi para mahasiswa rantau saat tanggal-tanggal tua. Apaboleh buat, terkadang memang ilmu survival (bertahan hidup) mereka berguna untuk menghadapi akhir bulan yang penuh tantangan. Saat keungan mulai menipis maka para mahasiswa rantau akan sangat berterimakasih pada peralatan masak pendakian gunung ini. Ada juga yang masak menggunakan peralatan pendakian ini karena meskipun tanggal muda ternyata uangnya sudah menipis karena digunakan untuk membeli buku kuliah. Ada juga yang benar-benar kepepet uangnya harus buat bayar uang kuliah atau bayar kos hingga persediaan uang tinggal sedikit.

Ilmu survival (bertahan hidup) di hutan ternyata juga mempunyai hubungan dengan permasalahan keuangan pribadi. Namun kali ini kemampuan survival-nya tidak di hutan tapi di sekitar kampus. Prinsipnya adalah hanya yang penting bisa bertahan hidup hingga akhir bulan atau hingga ada suntikan dana kembali. Nah, bagi anda-anda para pendaki gunung terutama yang mahasiswa pasti pernah mengalami kesemuanya ini atau minimal akan paham dengan semua uraian di atas.

Mungkin anda juga tertarik untuk membaca artikel-artikel berikut ini: