Untuk Kamu Yang Ingin Manfaat Mendaki Gunung Lebih Terasa

Manfaat mendaki gunung bagi orang-orang tertentu adalah bisa memberikan suatu olah kepekaan rohani spiritual antara dirinya dengan alam. Mendaki gunung juga menjadi bentuk renungan refleksi antara diri pendaki gunung dengan kehidupannya. Sudah sejak zaman dahulu kala gunung dijadikan tempat-tempat untuk meningkatkan kondisi spiritual para anak manusia. Adanya bekas-bekas peninggalan manusia terdahulu di gunung-gunung menunjukkan adanya kebenaran pada pendapat ini.

Adanya bekas reruntuhan bangunan yang sekarang tinggal fondasi saja di puncak Gunung Rengganis-Argopuro, adanya peninggalan bekas dinding di Gunung Butak-Kawi, adanya prasasti di pinggirian Danau Ranukumbolo, Adanya arca kembar (Arcapada) di batas vegetasi dan pasir pucak Semeru, adanya banyak candi di Pegunungan Dieng, yang kesemuanya itu menguatkan anggapan bahwa antara gunung dan manusia sudah terjalin interaksi harmonis yang berlangsung cukup lama sejak dahulu kala.

manfaat mendaki gunung,  pengertian mendaki gunung,  mendaki gunung semeru,  mendaki gunung rinjani,  naik gunung,  mendaki gunung mp3,  mendaki gunung bromo,  tips mendaki gunung,   kata kata romantis pendaki gunung,  kata kata mutiara pendaki gunung,  lagu pendaki gunung,  komunitas pendaki gunung,  pendaki gunung everest,  berita pendaki gunung,  pendaki gunung mp3,  pendaki gunung semeru

Cukup miris sekali ketika dibandingkan dengan kondisi saat ini. Mendaki gunung hanya dimaknai sekedar sebagai kegiatan rekreasi hura-hura untuk tren dan biar kelihatan keren. Kondisi seperti ini bisa terlihat dari efek yang telah terjadi di gunung. Adanya ketidaksiapan mental serta fisik yang dipaksakan menjadikan banyaknya korban yang bertumbangan di gunung. Adanya corat-coret vandalisme di bebatuan, tebing, dan di batang pohon menunjukkan ketidaksadaran dan ketidak mampuan sebagian pendaki gunung mengapresiasi keindahan alam natural, yang ada mereka malah merusaknya. Adanya aktivitas pembuangan sampah secara sembarangan di sepanjang jalur pendakian serta di sekitar tempat mendirikan tenda menunjukkan bahwa sebagian pendaki gunung tidak punya etika, penghormatan, dan kesantunan terhadap alam. Bisa dipastikan juga kemungkinan besar pendaki gunung yang suka membuang sampah sembarangan tersebut juga suka membuang sampah sembarangan di kesehariannya ketika tidak mendaki gunung.

Cukup berbeda jauh sekali ketika membandingkan pendakian gunung orang-orang terdahulu dengan pendakian gunung zaman sekarang. Pendakian oleh orang-orang zaman dahulu yang kemungkinan dilakukan dengan ritual prihatin dan penuh perenungan sarat makna. Efek yang dihasilkanpun juga berbeda, bila pendaki gunung zaman sekarang bisa hanya mendapat lelah dan foto-foto narsis saja, maka pendakian orang zaman dahulu akan lebih banyak mendapatkan ketenangan jiwa, terbebas dari stres depresi, dan menghasilkan kondisi spiritualitas yang lebih baik dari sebelumnya. Tentu saja jenis pendakian yang penuh pencarian makna spiritualitas tersebut akan lebih ramah terhadap lingkungan alam pegunungan (ecofriendly).

Pendaki gunung  sejati akan semakin dekat dengan alam dan mereka akan selalu merenung ketika mendaki gunung. Setiap perjalanan mereka adalah suatu bentuk renungan kehidupan untuk membentuk dan menempa diri mejadi lebih baik dari sebelumnya. Mereka akan menikmati setiap hembusan angin gunung, suara daun-daun cemara yang saling beradu tertiup sang bayu dan juga wanginya rerumputan di kanan kiri sepanjang perjalanan.

Kesemuanya yang ada di gunung membuat mereka sadar bahwa mereka hanyalah seonggok daging tak berdaya di hadapan alam semesta. Kesadaran-kesadaran seperti inilah yang membuat manusia menjadi lebih arif dan bijaksana dalam mengarungi kehidupan serta mendorong untuk lebih ramah terhadap lingkungan. Mereka itu cinta lingkungan dan lingkungan juga mencintai mereka. Jadi di sini terjadi aksi saling mencintai antara mereka dengan lingkungan. Keselarasan antara manusia dengan lingkungan akan membuat kehidupan bersama ini menjadi lebih baik.

Perjalanan pendakian menuju puncak gunung mengandung arti yang sangat dalam ketika dianalogikan dengan perjalanan kehidupan manusia. Dalam setiap perjalanan menuju puncak gunung kita akan dihadapkan dengan berbagai macam halangan dan rintangan yang tidak terduga. Kita harus terus berjalan meskipun itu pelan dan tidak pernah menyerah hingga mencapai puncak. Apapun kondisi jalannya entah itu turun, naik, datar, atau bahkan mengharuskan untuk merangkak maka seorang pendaki tidak boleh menyerah dan berhenti begitu saja. Istirahat boleh, tapi hanya sebentar serta jangan terlalu lama atau mungkin malah berhenti selamanya. Tindakan yang paling baik adalah terus melangkah hingga sampai ke puncak.

Begitu pula yang terjadi pada perjalanan kehidupan. Kita harus terus berusaha tanpa kenal menyerah dalam mendaki mencapai puncak-puncak kesuksesan hidup. Kita boleh gagal, namun kita tidak boleh berhenti sampai di situ saja. Kita harus bangkit melangkah atau bahkan merangkak. Meskipun langkah kita pelan namun kita harus terus bergerak untuk mencapai kesuksesan hidup. Apapun itu yang terjadi, kita harus terus berjuang dan jangan hanya diam. Meskipun kita hanya bisa merayap, kita harus tetap terus maju karena dengan begitu akan terjadi perubahan ke arah yang lebih baik. Hingga akhirnya sampailah pada puncak-puncak kesuksesan hidup dengan penuh makna dan ketenangan jiwa.

Suatu pendakian yang penuh makna akan mampu mengantarkan jiwa-jiwa anak manusia pada ketenangan dan ketentraman batin dalam perenungannya terhadap sang pencipta. Itulah manfaat mendaki gunung yang sesungguhnya.